Tahun ini, trio pop/punk asal Bekasi tersebut merilis EP terbaru mereka, berbarengan dengan special collaboration bersama FYC Footwear dalam bentuk sepatu. Bukan sekadar kolaborasi nama, proyek ini juga membawa tiga desain berbeda yang seluruh visualnya digambar langsung oleh personel SLR.

Mahes, Jalil, dan Bumbum nggak cuma masuk studio buat rekaman. Mereka juga turun tangan bikin artwork. Coretan tangan mereka muncul di badan sepatu sampai ke shoebox. Nggak ada ilustrator tambahan, nggak ada polesan digital berlebihan. Secara visual terasa mentah, spontan, dan memang seperti buku gambar anak band yang penuh doodle di sela latihan.
Pendekatan itu terasa konsisten dengan karakter SLR sendiri. Sejak dikenal lewat lagu “Maling”, mereka memang identik dengan gaya yang apa adanya, lirik lugas, nada yang catchy, tapi nggak ribet. Energi yang sama terasa dipindahkan ke medium visual.

Kolaborasi dengan FYC juga bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Brand ini sudah lama bergerak di irisan skate dan musik. Jadi ketika proyek ini muncul dalam bentuk daily skate shoes dengan tiga pilihan desain, rasanya lebih seperti pertemuan kultur ketimbang kerja sama tempelan logo.
EP yang dilepas bersamaan dengan proyek ini jadi semacam fondasi emosionalnya. Musiknya berdiri sendiri, tapi visual di sepatu terasa seperti perpanjangan dunia yang sama — penuh simbol, coretan, dan referensi internal yang cuma bisa lahir dari tangan mereka sendiri.
Yang menarik, shoebox pun ikut jadi bagian dari kanvas. Bukan kemasan generik, tapi ikut diperlakukan sebagai ruang visual. Detail kecil yang bikin proyek ini terasa lebih intim ketimbang sekedar merchandise tur.






Pada akhirnya, rilisan ini bukan cuma soal sepatu atau EP semata. Ini tentang bagaimana satu band memindahkan energi kreatifnya ke medium lain tanpa kehilangan identitas.
Dan mungkin itu yang bikin proyek ini terasa relevan: bukan karena ambisinya besar, tapi karena prosesnya terasa dekat.